Kamis, 31 Januari 2013

Mengapa Ulama Berbeda Dalam Menentukan Jumlah Ayat Al-Qur'an?

Para ulama sepakat mengatakan bahwa jumlah ayat Alqur'an lebih dari 6.200 ayat. Namun berapa ayat lebihnya, mereka masih berselisih pendapat.

Menurut Nafi” yang merupakan ulama Madinah, jumlah tepatnya adalah 6.217 ayat. Sedangkan Syaibah yang juga ulama Madinah, jumlah tepatnya 6214 ayat. Lain lagi dengan pendapat Abu Ja'far, meski juga merupakan ulama Madinah, beliau mengatakan bahwa jumlah tepatnya 6.210 ayat.

Menurut Ibnu Katsir, ulama Makkah mengatakan jumlahnya 6.220 ayat. Lalu ”Ashim yang merupakan ulamaBashrah mengatakan bahwa jumlahnya jumlah ayat al-Quran ialah., 205 ayat.

Hamzah yang merupakan ulama Kufah sebagaimana yang diriwayatkan mengatakan bahwa jumlahnya 6.236 ayat.

Dan pendapat ulama Syria sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yahya Ibn al-Harits mengatakan bahwajumlahnya 6.226 ayat.

MENGAPA BERBEDA?

Sebenarnya tidak ada yang beda di dalam ayat Alqur'an. Semua pendapat di atas berangkat dari ayat-ayat Alqur'an yang sama.

YANG BERBEDA ADALAH KETIKA MENGHITUNG JUMLAHNYA DAN MENETAPKAN APAKAH SUATU POTONGAN KALIMAT ITU MENJADI SATU AYAT ATAU DUA AYAT.

Ada orang yang menghitung dua ayat menjadi satu. Dan sebaliknya juga ada yang menghitung satu ayat jadi dua.
Padahal kalau dibaca semua lafadz Quran itu, semuanya sama dan itu itu juga. Tidak ada yang berbeda.

LALU MENGAPA MENJADI BEDA DALAM MENENTUKAN APAKAH SATU LAFADZ ITU SATU AYAT ATAU DUA AYAT?

Jawabnya adalah dahulu Rasulullah SAW terkadang diriwayatkan berhenti membaca dan menarik nafas. Pada saat itu timbul asumsi pada sebagian orang bahwa ketika Nabi menarik nafas, di situlah ayat itu berhenti dan habis. Sementara yang lain berpandangan bahwa nabi SAW hanya sekedar berhenti menarik nafas dan tidak ada kaitannya dengan berhentinya suatu ayat.

Lagian, nabi SAW saat itu juga tidak menjelaskan kenapa beliau menarik nafas dan berhenti. Dan tidak dijelaskan juga apakah berhentinya itu menunjukkan penggalan ayat, atau hanya semata-mata menarik nafas karena ayatnya panjang.

Selain itu ada ulama yang menghitung kalimat "bismillahirrohmnirrohim" di awal surat sebagai ayat, dan ada pula yang tidak tapi hanya menghitung "bismillahirrohmanirrohim" pada surat Al-Fatihah saja sebagai bagian ayat Alqur'an, ini juga bisa mempengaruhi perhitungan.

Perbedaan dalam menghitung jumlah ayat ini sama sekali tidak menodai Alqur'an. Kasusnya sama dengan perbedaan jumlah halaman mushaf dari berbagai versi percetakan. Ada mushaf yang tipis dan sedikit mengandung halaman, tapi juga ada mushaf yang tebal dan mengandung banyak halaman.

Yang membedakanya adalah ukuran font, jenis dan tata letak (lay out) halaman mushaf. Tidak ada ketetapan dari Nabi SAW bahwa Alqur'an itu harus dicetak dengan jumlah halaman tertentu.

BERAPA JUMLAH AYAT ALQUR’AN SEBENARNYA?

Mari kita hitung:

Mulai dari surah Fatihah yang diakhiri dengan nomor 7. Itu adalah jumlah ayat bagi surah tersebut. Kemudian pergi ke ujung surah 2 (Al-Baqarah) dan bertemu pula dengan angka 286. Teruskanlah, surah demi surah, hingga ke hujung surah terakhir, yaitu surah yang ke-114. Jumlahkan kesemua angka itu, dan jumlah yang didapati adalah jumlah ayat-ayat Alqur'an yang sebenarnya.
berikut ini daftarnya:

1-5 ( 7 + 286 + 200 + 176 + 120 ) = 789 ayat
6-10 ( 165 + 206 + 75 + 129 + 109 ) = 684
11-15 ( 123 + 111 + 43 + 52 + 99 ) = 428
16-20 ( 128 + 111 + 110 + 98 + 135 ) = 582
21-25 ( 112 + 78 + 118 + 64 + 77 ) = 449
26-30 ( 227 + 93 + 88 + 69 + 60 ) = 537
31-35 ( 34 + 30 + 73 + 54 + 45 ) = 236
36-40 ( 83 + 182 + 88 + 75 + 85 ) = 513
41-45 ( 54 + 53 + 89 + 59 + 37 ) = 292
46-50 ( 35 + 38 + 29 + 18 + 45 ) = 165
51-55 ( 60 + 49 + 62 + 55 + 78 ) = 304
56-60 ( 96 + 29 + 22 + 24 + 13 ) = 184
61-65 ( 14 + 11 + 11 + 18 + 12 ) = 66
66-70 ( 12 + 30 + 52 + 52 + 44 ) = 190
71-75 ( 28 + 28 + 20 + 56 + 40 ) = 172
76-80 ( 31 + 50 + 40 + 46 + 42 ) = 209
81-85 ( 29 + 19 + 36 + 25 + 22 ) = 131
86-90 ( 17 + 19 + 26 + 30 + 20 ) = 112
91-95 ( 15 + 21 + 11 + 8 + 8 ) = 63
96-100 ( 19 + 5 + 8 + 8 + 11 ) = 51
101-105 ( 11 + 8 + 3 + 9 + 5 ) = 36
106-110 ( 4 + 7 + 3 + 6 + 3 ) = 23
111-114 ( 5 + 4 + 5 + 6 ) = 20
-----------------------------------------------------------
Jumlah besar = 6,236 ayat
-----------------------------------------------------------

Setelah dijumlahkan didapatkan bahwa jumlah ayat di dalam Alqur’an adalah 6236 ayat tanpa memasukkan 112 bismillah di awal surat Jika dimasukkan kedalam perhitungan jumlahnya menjadi 6348 ayat, tetap tidak sampai 6666.. Jumlah ini ternyata (baru saya temukan beberapa menit lalu) sama dengan jumlah ayat dalam list Alqur’an digital (yang telah saya miliki bertahun-tahun lalu).

Teman-teman sekalian mengenai ayat Alqur'an berjumlah 6666 ayat padahal setelah kita hitung jumlahnya 6236, sebenarnya ada suatu pesan yg tidak tersampaikan. Jadi kalau para ulama ada yang bilang bahwa ayat Alqur'an itu berjumlah 6666 ayat itu sebenarnya tidak salah juga tapi ada sedikit yang harus di jelaskan.

Kalau kita uraikan ada selisih 430 ayat (6666 - 6236 = 430)
otomatis akan timbul pertanyaan:
1. kenapa bisa terjadi kelebihan 430 ayat?
2. apakah angka 430 ini sebuah kesalahan atau ada pesan yang tidak tersampaikan lewat angka 430 ini?

Kalau kita berfikir sempit kita pasti berfikir "kalau begitu para ulama telah menyesatkan umatnya donk?
justru tidak begitu, ada pesan yg tidak tersampaikan di balik angka itu

Sekarang saya akan coba menjelaskan dengan apa yg saya ketahui dan yang telah saya pelajari tetapi saya akan membahas permasalahan ini dengan metodelogi numerik Alqur'an

Allah menciptakan Alqur'an dengan begitu sempurna dan tidak ada cacat sedikitpun, sungguh maha luar biasa allah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini berdasarkan perhitungan yang sangat akurat, begitu juga Alqur'an Allah menciptakan Alqur'an dengan penghitungan yg sangat cermat dan akurat tidak hanya isinya saja yg sempurna tetapi angka-angka di dalamnya dan susunan surat,halaman,jumlah baris,huruf" dan banyak lagi...tidak hanya asal menulis dan di tempatkan, semuanya di letakkan berdasarkan perhitungan yg sangat cermat, itulah makanya Alqur'an disebut kitab yg sempurna yang membedakan dari kitab yg lainnya, tetapi kebanyakan umat saat ini tidak pernah sadar akan hal tersebut

Sekarang kita kembali ke permasalahan di atas angka 430 ada apa sich dengan angka ini?

Angka 6236 = Alqur'an, jadi bisa di ibaratkan angka ini adalah Alqur'an/mewakili Alqur'an.
Kami sebagai umat muslim sangat di wajibkan untuk mempelajari Alqur'an, dengan mempelajari Alqur'an kita akan tahu mana yang baik dan tidak, sehingga kita akan mempunyai batasan dalam hidup ini

Makanya kalau cetakan Alqur'an dari karachi pakistan itu halaman awal dimulai dengan halaman 2 dan 3 tidak ada hal 1, kenapa? karena dari angka tersebut Alqur'an ingin menyampaikan sesuatu yg kita tidak sadarkita bahas sedikit, dari halaman depan saja ada pesan supaya kita di haruskan mempelajari Alqur'an "hal 2 dan hal 3" klo kita ambil angkanya saja dan kombinasikan berarti menjadi 32 dan 23 ada apa dengan angka ini?

Kita larikan angka yang tadi ke dalam susunan surat di dalam Alqur'an...
Surat ke-32 as sajadah (batasan)
Surat ke-23 al mu'minun (orang-orang yg beriman)

Nah dari halaman depan saja Alqur'an ingin menyampaikan suatu pesan kepada kita yaitu wahai manusia pelajarilah aku karena dengan mempelajariku kamu akan tahu 32 (as sajadah)/batasan, maksud batasan disini dengan mempelajari Alqur'an kita akan tahu mana yang boleh dan tidak boleh..setelah kmu mengetahui batasan dalam hidup ini kata al qur'an kmu akan mendapat 23 (al mu'min)/orang-orang yg beriman, otomatis donk kalau kita tahu mana yg baik dan buruk insyaallah kita akan menjadi orang-orang yg beriman. Apakah angka-angka di atas suatu kebetulan atau memang di buat dengan perhitungan yg sangat matang?????

Kembali ke permasalahan 6236.....
sebenarnya pesan angka 6666 tersebut kurang lebih seperti ini....bagi para umat muslim pelajarilah 6236/Alqur'an sebagai pedoman hidupmu, dan jadikanlah 430 sebagai suri tauladan dalam tingkah pola kita sehari-hari

lho kok 430 dijadikan sebagai suri tauladan? apa maksud angka tersebut?
sebagai umat muslim suri tauladan kita semua adalah nabi muhammad saw. jadi angka tersebut adalah 430 = mewakili nama Nabi Muhammad saw. kenapa bisa begitu?

Sekarang kata muhammad kita urai yang terdiri dari huruf "mim, ha, mim, da"
sekarang kita larikan ke surat
mim huruf ke 24 -----> surat ke 24 jumlah ayat 64
ha huruf ke 6 -------> surat ke 6 jumlah ayat 165
mim huruf ke 24 -----> surat ke 24 jumlah ayat 64
da huruf ke 8 -------> surat ke 8 jumlah ayat 75

kita jumlahkan nomor surat dan jumlah ayat......
24 + 64 = 88
6 + 165 = 171
24 + 64 = 88
8 + 75 = 83
------+
430
jadi huruf muhammad itu kalau di uraikan berjumlah 430, apakah angka-angka di atas sebuah kebetulan atau di berdasarkan perhitungan yg tepat, sungguh maha luar biasa Allah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini berdasarkan perhitungan yg cermat dan akurat

Nah sudah jelaskan khan mengapa ada ulama berpendapat ayat Alqur'an ada 6666? jadi tidak perlu dipermasalahkan, yang penting isinya tidak ada yang hilang dan tidak ada yang berubah...

Menafsir Bidadari (Huur)

Tidak ada bidadari disebut-sebut dalam Al-Qur’an, yang ada itu adalah kata ‘huur’, dalam bahasa Indonesia kata ‘huur’ tersebut lalu diterjemahkan dengan ‘bidadari’. Ustadz Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir al-Mishbah menyatakan bahwa istilah ‘huur’ tersebut merupakan bentuk kata yang bebas kelamin, artinya bisa diartikan sebagi perempuan dan bisa juga laki-laki. Kesan yang dimunculkan oleh kata ‘huur’ tersebut adalah terkait dengan : keindahan, kesetiaan, pengabdian, pasangan yang serasi, dll. Karena keberadaan ‘huur’ tersebut merupakan sesuatu bentuk ghaib yang belum bisa kita temukan padanannya dalam kehidupan dunia, maka pikiran kita tentu saja boleh secara bebas menafsirkan bagaimana sosoknya, sepanjang tidak terlepas dari sifat-sifat dan ciri yang melekat kepada kata tersebut, dan ini bukan hanya terbatas kepada bentuk wanita yang cantik sebagaimana pemahaman kita tentang bidadari.
 
Ketika seseorang hanya menafsirkan kata ‘huur’ sebagai ‘bidadari’, sama saja ibaratnya kita menerjemahkan kata ‘makanan’ dengan ‘nasi’, nasi tentu saja termasuk makanan, namun makanan tidak hanya berupa nasi saja.
 
Ketika Allah berbicara soal  ‘huur’ yang dijadikan pasangan bagi para penghuni surga, maka Dia sebenarnya lagi membicarakan soal ‘lingkungan sosial’, tempat manusia ahli surga berinteraksi, karena kodratnya manusia memang tidak bisa hidup sendiri, butuh berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lain. ‘Huur’ adalah sosok yang diciptakan sesuai keinginan dan hasrat si penghuni, tergantung kecenderungannya. Kalau anda punya hasrat dan kesukaan sebagai pemain sepakbola layaknya Lionel Messi, maka ‘huur’ anda kelak di surga adalah Cesc Fabregas atau pelatih Guardiola, pasangan yang serasi sesuai keinginan anda untuk menjadi pemain bola handal di surga, ketika anda terobsesi menjadi vokalis band seperti Mick Jagger, maka ‘huur’ anda adalah gitaris Keith Richard, Ron Wood dan drummer Charlie Watts. Tentu saja kalau anda punya naluri sebagai playboy kelas kakap, maka ‘huur’ anda tidak jauh-jauh dari serombongan Miss Universe yang cantik-cantik. Bagi wanita penghuni surga, silahkan tanya apa yang menjadi obsesi anda terhadap lingkungan sosial anda, ingin punya ‘teman ngerumpi’ yang lucu atau ahli kecantikan yang handal, itulah arti ‘huur’ buat anda.
 
‘Huur’ anda di surga juga bisa berperan sebagai tetangga yang ramah dan suka menolong, atau pak RT/RW yang ringan tangan membantu warga, polisi yang ramah mengatur lalu-lintas, juga presiden/raja yang adil, bahkan pelayan atau pembantu rumah-tangga yang rajin dan jujur, semua ‘huur’ anda tersebut bersikap menyenangkan dan membahagiakan anda, tidak pernah menyakiti dan khianat, karena memang diciptakan untuk itu.
 
Sekali lagi, karena kita sedang membicarakan sesuatu yang ghaib dan tidak ada padanannya di dunia ini, anda tidak usah protes dengan penafsiran saya ini, yang jelas kita memiliki satu pandangan yang sama, bahwa ‘huur’ yang diciptakan Allah di surga tersebut adalah sesuatu yang menyenangkan kita, itu saja…

Sabtu, 26 Januari 2013

JANGAN FANATIK (Taushiah Mbah Hasyim Asy'ari)


Berikut ini adalah mauidzah (wejangan) dari Hadhratus-Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh utama pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Tulisan ini merupakan terjemah dari kitab karangan beliau, At-Tibyan (risalah tentang pentingnya ukhuwwah dan amat tercelanya pemutusan silaturahim).

Bismillahirrahmanirrahim

(surat ini) Dari makhluk yang paling melarat, bahkan pada hakikatnya dari orang yang tidak punya sesuatu apapun, Muhammad Hasyim Asy’ari, semoga Allah swt. mengampuni keturunannya dan seluruh umat muslim. Kepada teman-teman yang mulia dari penduduk tanah Jawa dan sekitarnya, baik ULAMA maupun MASYARAKAT UMUM…

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Benar-benar telah sampai kepadaku sebuah kabar bahwa api fitnah dan pertikaian telah terjadi di antara kalian semua. Maka aku merenung sejenak kira-kira apa sebabnya. Kemudian aku berkesimpulan bahwa, sebab itu semua adalah karena masyarakat zaman sekarang telah banyak mengganti dan merubah kitab Allah swt. dan sunnah Rasulullah saw.

Allah swt. berfirman,
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (surat Al-Hujurat; 10)

Sementara masyarakat sekarang menjadikan orang mukmin sebagai musuh dan tidak ada upaya untuk mendamaikan atau perdamaian di antara mereka, bahkan ada kecenderungan untuk merusaknya.
Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian saling menebar iri dengki, jangan kalian saling membenci dan jangan saling bermusuhan. Jadilah kalian bersaudara wahai hamba-hamba Allah swt.”
Sementara masyarakat zaman sekarang saling iri dengki, saling membenci, saling bersaing (dalam urusan dunia) dan mereka akhirnya menjadi musuh.

Wahai para ulama yang fanatik terhadab sebagian madzhab dan pendapat (ulama madzhab), tinggalkanlah fanatik kalian terhadap urusan-urusan far’iyyah (tidak fundamental), yang di dalamnya, para ulama masih menawarkan dua pendapat, yakni pendapat yang mengatakan bahwa, “Setiap mujtahid (niscaya) benar.” Serta pendapat yang mengatakan, “Mujtahid yang benar (pasti hanya) satu, namun mujtahid yang salah tetap mendapat pahala.”

Tinggalkanlah fanatik kalian! Dan tinggalkanlah jurang yang akan merusak kalian! Lakukanlah pembelaan terhadap agama Islam! Berjuanglah kalian untuk menangkis orang-orang yang mencoba melukai Al-Quran dan Sifat-sifat Allah swt. berjuanglah kalian untuk menolak orang-orang yang berilmu sesat dan akidah yang merusak. Jihad untuk menolak mereka adalh wajib. Dan sibukkanlah diri kalian untuk senantiasa berjihad melawan mereka.

Wahai manusia, di antara kalian ada orang-orang kafir yang memenuhi negeri ini, maka siapa lagi yang bisa diharapkan bangkit untuk mengawasi mereka dan serius untuk menunjukkannya ke jalan yang benar???

Wahai para ulama! Untuk urusan seperti ini (membela Al-Quran dan menolak orang yang menodai agama), maka bersungguh-sungguhlah kalian dan silakan kalian berfanatik. Adapun fanatik kalian untuk urusan-urusan agama yang bersifat far’iyyah dan mengarahkan manusia ke madzhab tertentu atau pendapat tertentu, maka itu adalah suatu hal yang tidak akan diterima Allah swt. dan tidak disenangi Rasulullah saw.

Yang membuat kalian semua bertindak seperti itu tiada lain kecuali hanya kefanatikan kalian terhadap madzhab tertentu, bersaing dalam bermadzhab dan saling hasud. Sungguh, kalu saja Imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hajar dan Imam Ramly masih hidup (di tengah-tengah kita), maka pasti mereka akan sangat ingkar dan tidak sepakat atas (perbuatan) kalian dan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah kalian perbuat.

Kalian mengingkari sesuatu yang masih dikhilafi para ulama, sementara kalian melihat banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, meninggalkan shalat yang hukumannya, menurut Imam Syafi’I, Imam Malik dan Imam Ahmad, adalah potong leher. Dan kalian tidak mengingkarinya sedikitpun. Bahkan di antara kalian yang telah melihat banyak tetangganya tidak ada yang melaksanakan shalat, tapi kalian diam seribu bahasa.

Lantas bagaimana kalian mengingkari sebuah urusan far’iyyah yang terjadi perbedaan pendapat di antara ulama? Sementara pada saat yang sama kalian tidak pernah mengingkari sesuatu yang nyata-nyata diharamkan agama seperti zina, riba, minum khamar dll…

Sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak kalian untuk terpanggil mengurusi hal-hal yang diharamkan Allah swt. kalian hanya terpanggil oleh rasa fanatisme kalian kepada Imam Syafi’I dan Imam Ibnu Hajar. Hal itu akan menyebabkan tercerai-berainya persatuan kalian, terputusnya hubungan keluarga kalian, terkalahkannya kalian oleh orang-orang yang bodoh, jatuhnya wibawa kalian di mata masyarakat umum dan harga diri kalian akan jadi bahan omongan orang-orang bodoh, akhirnya kalian akan membalas merusak mereka sebab gunjingan mereka tentang kalian. Itu semua terjadi karena daging kalian telah teracuni dan kalian telah merusak diri kalian dengan dosa-dosa besar yang kalian perbuat.

Wahai para ulama, apabila kalian melihat orang yang mengamalkan pendapat dari para Imam Ahli Madzhab yang memang boleh diikuti, walaupun pendapat itu tidak rajih (unggul), apabila kalian tidak sepakat dengan mereka, maka jangan kalian menghukuminya dengan keras, tapi tunjukkanlah kepada mereka dengan lembut. Dan apabila mereka tidak mau mengikuti anjuran kalian, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan mereka sebagai musuh. Perumpamaan orang-orang yang melakukan hal di atas adalah seperti orang yang membangun gedung tapi merobohkan tatanan kota.

Jangan kalian jadikan keengganan mereka untuk mengikuti kalian, sebagai alasan untuk perpecahan, pertikaian dan permusuhan. Sesungguhnya perpecahan, pertikaian dan permusuhan adalah kejahatan yang mewabah dan dosa besar yang bisa merobohkan tatanan kemasyarakatan dan bisa menutup pintu kebaikan.

Untuk itu, Allah swt. melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin dari pertentangan dan Allah swt. mengingatkan mereka bahwa akibatnya sangat buruk serta ujung-ujungnya sangat menyakitkan.
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (surat Al-Anfaal; 46)

Wahai orang-orang muslim! Sesungguhnya di dalam tragedi yang terjadi di hari-hari ini, ada ibrah (hikmah) yang banyak serta nasihat yang sangat layak diambil orang yang yang cerdas dari hanya sekedar mendengarkan mauidzahnya para penceramah dan nasihatnya para mursyid.
Ingatlah! Bahwa kejadian di atas adalah merupakan kejadian yang setiap saat akan selalu menghampiri kita.

Maka apakah bagi kita bisa mengambil ibrah dan hikmah??? Dan apakah kita sadar dari lelap dan lupa kita??? Dan kita mesti sadar, kebahagiaan kita tergantung dari sifat tolong-menolong kita, persatuan kita, kejernihan hati kita dan keikhlasan sebagian dari kita kepada yang lain. Ataukah kita tetap berteduh di bawah perpecahan, pertikaian, saling menghina, menghasud dan berada di dalam kesesatan? Sementara agama kita satu, yaitu agama Islam dan madzhab kita satu, yaitu Syafi’iyyah dan daerah kita juga satu yaitu Jawa. Dan kita semua adalah pengikut Ahlissunnah wal Jama’ah.

Maka Demi Allah swt., sesungguhnya perpecahan, pertikaian, saling menghina, fanatik madzhab adalah musibah yang nyata dan kerugian yang besar.

Wahai orang-orang Islam! Bertakwalah kepada Allah swt. dan kembalilah kalian semua kepada Kitab Tuhan kalian. Dan amalkan Sunnah Nabi kalian serta ikutilah jejak para pendahulu kalian yang sholeh-sholeh. Maka kalian akan berbahagia dan beruntung seperti mereka.

Bertakwalah kepada Allah swt. dan damaikanlah orang-orang yang berseteru di antara kalian. Saling tolong-menolonglah kalian atas kebaikan dan takwa. Jangan saling tolong menolong atas dosa dan aniaya, maka Allah swt. akan melindungi kalian dengan Rahmat-Nya dan akan menebarkan kebaikan-Nya. Jangan seperti orang yang berkata, “aku mendengarkan” padahal mereka tidak mendengarkan.

Wassalaam fil mabda’ wal-khitaam.

Muhammad Hasyim Asy’ari
Tebuireng, Jombang.

Indonesiaku


Di ujung ombak kutitipkan sejumput harapan
Pada pantai di waktu senja
Tentang kepedihan bangsa ini yang tak kunjung padam
Tentang hati yang tak kunjung damai

Angin kemarahan seakan telah meluluhlantakkan kebhinnekaan
Darah seakan jadi tempat berenang yang nyaman
Itulah sketsa yang tergores di kanvas Indonesiaku
Entah sampai kapan?



Bondowoso, 10 Nopember 2012

CINTA DITITIK MALAM


Saat senja dicuri malam
Rasa meringkuk di sudut sunyi membawa suluh entah untuk apa
Berkabar tentang hati resah entah oleh siapa
Hingga terdampar lalu terkapar pada keagungan lautan kasih
Yang tak pernah kumengerti

Waktupun terus berlari menembus kelam
Mengajak aku pada pusaran fatamorgana cinta
Yang kian tak kumengerti
Masih terasa wewangi berkidung pada kembang-kembang dekat malam
Menatap purnama sepi, mengapa harus ada mendung di sana?

Cintaku…
Kemana herus dilabuhkan getar ini sementara malam menghalangi tepian
Tak ada berpijak hanyalah asa menggempur kesunyian
Fajar akan datang menjemput, bisikmu lirih

Semoga!

Malang, 12.06.07-01:31.00