Re Zubairi AB
Senja di pantai Togangsean. Bias cahaya mentari berkilau mencipta berlian di lidah ombak. Lambaian nyiur kelapa menyambut pandangan mentari senja itu. Subhanallah, ma ajmala nazharuhu! Keindahan senja yang sempurna. Hanyalah orang yang mempunyai jiwa estetiklah yang mampu merasakan keindahan tersebut. Namun tidak bagi Raj. Baginya senja itu menyisakan sejuta tanya tak terjawab. Langkahnya terlihat gontai. Sesekali kakinya dijilat ombak, berkabar tentang cinta yang larut dalam deburnya.
”Di pasir putih itu, nama kita masih ada walau kini tak tampak. Jadi prasasti tak tertulis. Bahwa cinta suci akan mengabadi!” Itulah suatu keyakinan yang hingga saat ini masih terpatri di sepanjang halaman mushaf kehidupannya. Menjadi azimat untuk meraih sebuah harapan. Meski laut pasang telah merampasnya. Tentang ’Issyika yang kini entah?
****
”Ketakhadiran bukanlah ketak-adaan yang harus melahirkan luka!” Gumam Irham suatu senja yang lain. Dialah sahabat sejati Raj yang selalu hadir kala resah menderanya. Jadi embun kala dahaganya sangat kerontang. Simbol persahabatan tak berpamrih. Sebab, persahabatan bagi mereka seumpama musik yang bermelodi, atau ibarat prosa yang berlirik. Kehadirannya begitu indah dan menyegarkan semangat hidup.
”Kau benar, tak semestinya aku meratapi ketakhadirannya di sini, what next? Lalu aku harus bagaimana? Aku tak bisa bohong akan kenyataan perasaanku, bahwa aku tetap merasa hampa tanpa dia!”, Raj berkeluh sambil menyeduh kopi yang sudah mendingin, sedingin jiwanya yang lagi hampa. Dan senja pun terus merangkak mendekati malam.
Irham mendesah, mencoba memasuki relung jiwa sahabatnya yang bergejolak. ”Ketulusan dalam mencinta seharusnya mampu menghadirkan keharmonisan dalam kehidupanmu, keresahan hanyalah seonggok nafsu tak akan sia-sia”. Raj menimpali, ”aku masih ingat apa yang pernah ditulis oleh Gibran; Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama, itulah yang terjadi dan berkecamuk dalam batin. Kekuatanku seakan hilang, kaki ini gontai tuk melangkah.
“Raj, kita tidak bisa memaknai cinta dari sudut pandang kekecewaan”, kembali Irham mencoba mengembalikan jiwa sahabatnya yang lagi kerontang. “Aku yakin apa yang diucapkan Gibran itu tidak untuk menenggelamkan sang pencinta dalam kelemahan dan ketakberdayaan, sebab cinta bagiku adalah kekuatan, kekuatan untuk hidup, kekuatan untuk mencapai keinginan, kekuatan menuju tujuan, dan kekuatan untuk selalu bangkit dari kegagalan. Kita terlahir dari kekuatan cinta SangMahaCinta, mengapa kita mesti lemah oleh kekuatan tersebut?”
Hening. Hanya nafas ombak menggemuruh seiring gemuruh jiwa dua insan yang sedang menyelami perasaannya masing-masing. Raj menatap kemilau ombak berkejaran dan rembulan mengintip dengan binar cahayanya yang temaram. Setemaram hati Raj saat ini. Desahan berat nafasnya tertahan, mencoba mencerna perkataan sahabatnya itu. Kembali terngiang kata-kata Gibran dalam pikirannya, Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran. Ah! Hanya itu yang terdengar.
Sementara waktu terus mendekati malam. Dan bulan yang tak sepenuhnya purnama, jadi saksi percakapan dua sahabat di tepi pantai.
***
”’Issyika, masihkah kamu betah memandang rembulan yang mulai temaram?”, sapa Habibah.
’Issyika seakan tak peduli sahabatnya sedang menyapa. Dia tetap mematung di beranda, tangannya telungkup sambil matanya sayu memandang temaram rembulan yang terus beringsut keperaduannya. Terlihat diwajahnya bergelayut sejuta resah. Kadang merengut. Kadang mendesah. Ada beban dalam pikirannya yang tak kunjung reda.
“Mungkin saja setiap masalah dan tantangan yang kita anggap sulit itu masih ada solusinya, namun belum terpikirkan oleh kita”, kembali Habibah memecah kesunyian.
Hanya desah yang terdengar agak berat.
“Sesungguhnya waktu adalah hidup, dan hidup sendiri adalah menjalani waktu”, Habibah tiada bosan memberi semangat kepada ‘Issyika. “Sejauh mana kamu menghargai waktu, berarti sejauh itulah kamu menghargai hidup kamu”.
“Aku mengerti”, ‘Issyika menimpali tanpa menoleh. “Bahwa ikrar setia yang pernah kami pahat, akan terkubur bersama waktu”.
“Tidak, waktu tidak pernah mengubur kesetiaan. Cinta dan kesetiaan yang tulus akan berjalan seiring bersama waktu. Walau raga tidak pernah menyatu, tapi jiwa akan tersatukan oleh cinta yang dilandasi ketulusan”. Ucap Habibah.
Sunyi. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Terkadang desau bayu menyapa lembut. Dan nyanyian belalang mengalun dalam keteraturan harmoni irama, begitu indah terdengar. Malam semakin mendekati fajar.
Terngiang ocehan Gibran dibenak ‘Issyika, orang yang berjiwa besar memiliki dua hati; satu hati menangis dan yang satu lagi bersabar. Aku sekarang telah memiliki satu hati: menangis. Tapi apakah aku bisa memiliki hati yang satunya lagi: bersabar? Ah, terkadang aku berpikir hidup ini tidak adil. Mengapa benih ketulusan dan kesetiaan yang telah kami tanam, harus tumbuh jadi perpisahan?
Sejuta tanya tanpa jawab berkelebat begitu saja dibenak ’Issyika.
”Habibah”, tiba-tiba ’Issyika memecah kesunyian yang dari tadi mendera. ”Apa yang kamu ketahui tentang cinta sejati?” tanya ’Issyika.
”Menurutku, dibalik cinta sejati tidak ada pamrih. Seperti ketika Rabi’ah al Adawiyah mencintai Tuhannya, itu bukan karena dia mengharapkan surga ataupun bukan karena takut neraka. Akan tetapi, karena Tuhan memang dzat yang semestinya dicintai. Itulah cinta sejati”, jawab Habibah agak sufistik.
”Sekarang apa yang harus kulakukan? Apakah begitu saja melupakan Raj? Melupakan ikrar setia yang pernah kami pahat?” kembali beberapa pertanyaan meluncur.
”Aku tak pernah memintamu untuk melupakan Raj. Apalagi mengingkari janji yang telah kau tanam. Permasalahan ini takkan pernah selesai kalau hanya dipikirkan. Alangkah baik jika kamu menemui Raj, semua permasalahan dibicarakan dari hati ke hati”, saran Habibah.
’Issyika termenung. Sambil mendesah, lalu mengangguk agak berat. ”Mungkin itu solusi terbaiknya”, katanya sambil melangkah masuk.
***
Siang tak begitu terik. Ada mendung bergelayut di langit biru. Semendung hati dua insan yang dilanda keresahan. Bimbang. Antara kesetiaan cinta, atau keabadian kasih dan orang tua. Sebab, cinta yang sebenarnya tidaklah mendatangkan luka dan derita. Terngiang senandung cinta Jalaluddin Rumi; Karena cinta duri menjadi mawar, Karena cinta cuka menjelma anggur segar, Karena cinta pentungan menjadi mahkota penawar, Karena cinta kemalangan menjadi keberuntungan, Karena cinta rumah penjara nampak bagaikan kedai mawar, Karena cinta timbunan debu kelihatan sebagai taman, Karena cinta api berkobar menjadi cahaya menyenangkan, Karena cinta Syaitan berubah menjadi bidadari, Karena cinta batu keras menjadi lembut bagaikan mentega, Karena cinta duka menjadi riang gembira, Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat, Karena cinta singa tidak menakutkan bagaikan tikus, Karena cinta sakit menjadi sehat, Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan.
”’Issyika, hampir setengah jam kita hanya membisu”, Raj mencoba mencairkan kebekuan suasana. ”Hatiku cemas dan selalu menanti jawab dari permasalahan yang sedang kita hadapi”.
Sambil menarik nafas panjang, ’Issyika mengarahkan pandangannya ke langit biru. Terasa berat untuk mengutarakan isi pikiran yang semalam berkecamuk. Dia sudah mempunyai keputusan, tapi darimana akan memulainya. Persoalan ini harus selesai tanpa ada luka dan derita. Tak ada sakit hati apalagi dendam.
Perlahan ’Issyika menoleh, mengarahkan pandangannya pada Raj. Mereka saling pandang. Sesaat keduanya tenggelam dalam perasaannya masing-masing. Debar jiwa berpacu dengan debur ombak.
”Raj, pujangga bilang, hanya diperlukan waktu semenit untuk mengenal seseorang, sejam untuk menyukainya dan sehari untuk mencintainya, tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakannya. Itu yang aku rasakan saat ini”, dengan suara tertahan ’Issyika menimpali.
”Hidup ini ibarat seutas tali”, ”Issyika melanjutkan. ”Kadangkala kita jatuh sakit dan terluka, dan itulah yang harus kita rasakan sekarang, suka atau tidak. Musim akan selalu berganti menjadi saksi bahwa kehidupan ini ada, bersemi, tumbuh lalu berkembang, akhirnya gugur dan suatu saat bersemi kembali. Seperti itulah hidup yang harus kita jalani, kalau cinta pernah bersemi di antara kita, lalu suatu saat harus layu dan gugur, itu sudah hukum alam yang sulit untuk kita hindarkan”.
Raj tertunduk mencoba menata hati dan pikirannya. Lalu ujarnya, ”’Issyika, hal yang menyedihkan dalam hidupku adalah ketika bertemu seseorang yang sangat berarti dan pada akhirnya bertemu kenyataan bahwa aku harus melepasnya pergi. Hal yang sangat sulit untuk aku terima ketika perpisahan harus terjadi tanpa pernah kita harapkan. Karena takkan ada seorangpun di belahan dunia manapun yang suka akan perpisahan”.
”Raj, perpisahan hanyalah satu sebab dari sebuah pertemuan, tidak ada pertemuan yang abadi begitupun perpisahan. Walau mungkin, pertemuan selanjutnya tidak sama dan tidak akan pernah sama keadaannya seperti kali pertama kita bertemu”.
”Tentu kita masih ingat Raj”, lanjutnya, ”bahwa Adam pun harus turun dari ”surga” dan harus terpisah dari Hawa hanya untuk memperoleh pengakuan menyandang predikat makhluk mulia (ahsan taqwim) yang sempurna di antara makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Ini menandakan bahwa tak selamanya kebersamaan selalu melahirkan kebahagiaan. Adakalanya kita harus berpisah demi tercapainya kehidupan yang lebih baik, yang mungkin saja kita dapatkan dikala kita tak lagi bersama. Jalan hidup ini sangatlah panjang dan berliku. Kita tak pernah tahu kapan kita sampai ke suatu tempat yang indah seperti yang selalu hadir dalam benak kehidupan kita. Yusuf memperoleh kemuliaan setelah mengalami penderitaan harus berpisah dari orang tuanya yang sangat mencintai dan menyayanginya segenap jiwa. Begitupun Muhammad, mendapatkan kemuliaan tatkala ditinggalkan orang-orang terkasihnya dengan di-isra’mi’raj-kan oleh Allah”, begitu lugas kata-kata meluncur dari ’Issyika diiringi tetesan air mata tak terbendung.
Begitupun dengan Raj. Dia tak mampu membendung luapan air matanya yang begitu deras. Dan berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh ’Issyika, mencoba memahaminya dengan sesadar-sadarnya akan arti cinta yang sebenarnya. Mungkin, inikah yang disebut pengorbanan cinta sejati?
Seiring waktu yang mendekati senja. Merekapun melangkah meninggalkan pantai penuh kenangan. Tak ada kata perpisahan. Tak ada kata maaf. Tapi di jiwa keduanya telah terpatri kenangan itu. Di sinilah kita memulai dan di sini pulalah semuanya berakhir. Sebab, cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah senantiasa.
Dimuat Radar Jember, 4 September 2011
Senja di pantai Togangsean. Bias cahaya mentari berkilau mencipta berlian di lidah ombak. Lambaian nyiur kelapa menyambut pandangan mentari senja itu. Subhanallah, ma ajmala nazharuhu! Keindahan senja yang sempurna. Hanyalah orang yang mempunyai jiwa estetiklah yang mampu merasakan keindahan tersebut. Namun tidak bagi Raj. Baginya senja itu menyisakan sejuta tanya tak terjawab. Langkahnya terlihat gontai. Sesekali kakinya dijilat ombak, berkabar tentang cinta yang larut dalam deburnya.
”Di pasir putih itu, nama kita masih ada walau kini tak tampak. Jadi prasasti tak tertulis. Bahwa cinta suci akan mengabadi!” Itulah suatu keyakinan yang hingga saat ini masih terpatri di sepanjang halaman mushaf kehidupannya. Menjadi azimat untuk meraih sebuah harapan. Meski laut pasang telah merampasnya. Tentang ’Issyika yang kini entah?
****
”Ketakhadiran bukanlah ketak-adaan yang harus melahirkan luka!” Gumam Irham suatu senja yang lain. Dialah sahabat sejati Raj yang selalu hadir kala resah menderanya. Jadi embun kala dahaganya sangat kerontang. Simbol persahabatan tak berpamrih. Sebab, persahabatan bagi mereka seumpama musik yang bermelodi, atau ibarat prosa yang berlirik. Kehadirannya begitu indah dan menyegarkan semangat hidup.
”Kau benar, tak semestinya aku meratapi ketakhadirannya di sini, what next? Lalu aku harus bagaimana? Aku tak bisa bohong akan kenyataan perasaanku, bahwa aku tetap merasa hampa tanpa dia!”, Raj berkeluh sambil menyeduh kopi yang sudah mendingin, sedingin jiwanya yang lagi hampa. Dan senja pun terus merangkak mendekati malam.
Irham mendesah, mencoba memasuki relung jiwa sahabatnya yang bergejolak. ”Ketulusan dalam mencinta seharusnya mampu menghadirkan keharmonisan dalam kehidupanmu, keresahan hanyalah seonggok nafsu tak akan sia-sia”. Raj menimpali, ”aku masih ingat apa yang pernah ditulis oleh Gibran; Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama, itulah yang terjadi dan berkecamuk dalam batin. Kekuatanku seakan hilang, kaki ini gontai tuk melangkah.
“Raj, kita tidak bisa memaknai cinta dari sudut pandang kekecewaan”, kembali Irham mencoba mengembalikan jiwa sahabatnya yang lagi kerontang. “Aku yakin apa yang diucapkan Gibran itu tidak untuk menenggelamkan sang pencinta dalam kelemahan dan ketakberdayaan, sebab cinta bagiku adalah kekuatan, kekuatan untuk hidup, kekuatan untuk mencapai keinginan, kekuatan menuju tujuan, dan kekuatan untuk selalu bangkit dari kegagalan. Kita terlahir dari kekuatan cinta SangMahaCinta, mengapa kita mesti lemah oleh kekuatan tersebut?”
Hening. Hanya nafas ombak menggemuruh seiring gemuruh jiwa dua insan yang sedang menyelami perasaannya masing-masing. Raj menatap kemilau ombak berkejaran dan rembulan mengintip dengan binar cahayanya yang temaram. Setemaram hati Raj saat ini. Desahan berat nafasnya tertahan, mencoba mencerna perkataan sahabatnya itu. Kembali terngiang kata-kata Gibran dalam pikirannya, Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran. Ah! Hanya itu yang terdengar.
Sementara waktu terus mendekati malam. Dan bulan yang tak sepenuhnya purnama, jadi saksi percakapan dua sahabat di tepi pantai.
***
”’Issyika, masihkah kamu betah memandang rembulan yang mulai temaram?”, sapa Habibah.
’Issyika seakan tak peduli sahabatnya sedang menyapa. Dia tetap mematung di beranda, tangannya telungkup sambil matanya sayu memandang temaram rembulan yang terus beringsut keperaduannya. Terlihat diwajahnya bergelayut sejuta resah. Kadang merengut. Kadang mendesah. Ada beban dalam pikirannya yang tak kunjung reda.
“Mungkin saja setiap masalah dan tantangan yang kita anggap sulit itu masih ada solusinya, namun belum terpikirkan oleh kita”, kembali Habibah memecah kesunyian.
Hanya desah yang terdengar agak berat.
“Sesungguhnya waktu adalah hidup, dan hidup sendiri adalah menjalani waktu”, Habibah tiada bosan memberi semangat kepada ‘Issyika. “Sejauh mana kamu menghargai waktu, berarti sejauh itulah kamu menghargai hidup kamu”.
“Aku mengerti”, ‘Issyika menimpali tanpa menoleh. “Bahwa ikrar setia yang pernah kami pahat, akan terkubur bersama waktu”.
“Tidak, waktu tidak pernah mengubur kesetiaan. Cinta dan kesetiaan yang tulus akan berjalan seiring bersama waktu. Walau raga tidak pernah menyatu, tapi jiwa akan tersatukan oleh cinta yang dilandasi ketulusan”. Ucap Habibah.
Sunyi. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Terkadang desau bayu menyapa lembut. Dan nyanyian belalang mengalun dalam keteraturan harmoni irama, begitu indah terdengar. Malam semakin mendekati fajar.
Terngiang ocehan Gibran dibenak ‘Issyika, orang yang berjiwa besar memiliki dua hati; satu hati menangis dan yang satu lagi bersabar. Aku sekarang telah memiliki satu hati: menangis. Tapi apakah aku bisa memiliki hati yang satunya lagi: bersabar? Ah, terkadang aku berpikir hidup ini tidak adil. Mengapa benih ketulusan dan kesetiaan yang telah kami tanam, harus tumbuh jadi perpisahan?
Sejuta tanya tanpa jawab berkelebat begitu saja dibenak ’Issyika.
”Habibah”, tiba-tiba ’Issyika memecah kesunyian yang dari tadi mendera. ”Apa yang kamu ketahui tentang cinta sejati?” tanya ’Issyika.
”Menurutku, dibalik cinta sejati tidak ada pamrih. Seperti ketika Rabi’ah al Adawiyah mencintai Tuhannya, itu bukan karena dia mengharapkan surga ataupun bukan karena takut neraka. Akan tetapi, karena Tuhan memang dzat yang semestinya dicintai. Itulah cinta sejati”, jawab Habibah agak sufistik.
”Sekarang apa yang harus kulakukan? Apakah begitu saja melupakan Raj? Melupakan ikrar setia yang pernah kami pahat?” kembali beberapa pertanyaan meluncur.
”Aku tak pernah memintamu untuk melupakan Raj. Apalagi mengingkari janji yang telah kau tanam. Permasalahan ini takkan pernah selesai kalau hanya dipikirkan. Alangkah baik jika kamu menemui Raj, semua permasalahan dibicarakan dari hati ke hati”, saran Habibah.
’Issyika termenung. Sambil mendesah, lalu mengangguk agak berat. ”Mungkin itu solusi terbaiknya”, katanya sambil melangkah masuk.
***
Siang tak begitu terik. Ada mendung bergelayut di langit biru. Semendung hati dua insan yang dilanda keresahan. Bimbang. Antara kesetiaan cinta, atau keabadian kasih dan orang tua. Sebab, cinta yang sebenarnya tidaklah mendatangkan luka dan derita. Terngiang senandung cinta Jalaluddin Rumi; Karena cinta duri menjadi mawar, Karena cinta cuka menjelma anggur segar, Karena cinta pentungan menjadi mahkota penawar, Karena cinta kemalangan menjadi keberuntungan, Karena cinta rumah penjara nampak bagaikan kedai mawar, Karena cinta timbunan debu kelihatan sebagai taman, Karena cinta api berkobar menjadi cahaya menyenangkan, Karena cinta Syaitan berubah menjadi bidadari, Karena cinta batu keras menjadi lembut bagaikan mentega, Karena cinta duka menjadi riang gembira, Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat, Karena cinta singa tidak menakutkan bagaikan tikus, Karena cinta sakit menjadi sehat, Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan.
”’Issyika, hampir setengah jam kita hanya membisu”, Raj mencoba mencairkan kebekuan suasana. ”Hatiku cemas dan selalu menanti jawab dari permasalahan yang sedang kita hadapi”.
Sambil menarik nafas panjang, ’Issyika mengarahkan pandangannya ke langit biru. Terasa berat untuk mengutarakan isi pikiran yang semalam berkecamuk. Dia sudah mempunyai keputusan, tapi darimana akan memulainya. Persoalan ini harus selesai tanpa ada luka dan derita. Tak ada sakit hati apalagi dendam.
Perlahan ’Issyika menoleh, mengarahkan pandangannya pada Raj. Mereka saling pandang. Sesaat keduanya tenggelam dalam perasaannya masing-masing. Debar jiwa berpacu dengan debur ombak.
”Raj, pujangga bilang, hanya diperlukan waktu semenit untuk mengenal seseorang, sejam untuk menyukainya dan sehari untuk mencintainya, tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakannya. Itu yang aku rasakan saat ini”, dengan suara tertahan ’Issyika menimpali.
”Hidup ini ibarat seutas tali”, ”Issyika melanjutkan. ”Kadangkala kita jatuh sakit dan terluka, dan itulah yang harus kita rasakan sekarang, suka atau tidak. Musim akan selalu berganti menjadi saksi bahwa kehidupan ini ada, bersemi, tumbuh lalu berkembang, akhirnya gugur dan suatu saat bersemi kembali. Seperti itulah hidup yang harus kita jalani, kalau cinta pernah bersemi di antara kita, lalu suatu saat harus layu dan gugur, itu sudah hukum alam yang sulit untuk kita hindarkan”.
Raj tertunduk mencoba menata hati dan pikirannya. Lalu ujarnya, ”’Issyika, hal yang menyedihkan dalam hidupku adalah ketika bertemu seseorang yang sangat berarti dan pada akhirnya bertemu kenyataan bahwa aku harus melepasnya pergi. Hal yang sangat sulit untuk aku terima ketika perpisahan harus terjadi tanpa pernah kita harapkan. Karena takkan ada seorangpun di belahan dunia manapun yang suka akan perpisahan”.
”Raj, perpisahan hanyalah satu sebab dari sebuah pertemuan, tidak ada pertemuan yang abadi begitupun perpisahan. Walau mungkin, pertemuan selanjutnya tidak sama dan tidak akan pernah sama keadaannya seperti kali pertama kita bertemu”.
”Tentu kita masih ingat Raj”, lanjutnya, ”bahwa Adam pun harus turun dari ”surga” dan harus terpisah dari Hawa hanya untuk memperoleh pengakuan menyandang predikat makhluk mulia (ahsan taqwim) yang sempurna di antara makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Ini menandakan bahwa tak selamanya kebersamaan selalu melahirkan kebahagiaan. Adakalanya kita harus berpisah demi tercapainya kehidupan yang lebih baik, yang mungkin saja kita dapatkan dikala kita tak lagi bersama. Jalan hidup ini sangatlah panjang dan berliku. Kita tak pernah tahu kapan kita sampai ke suatu tempat yang indah seperti yang selalu hadir dalam benak kehidupan kita. Yusuf memperoleh kemuliaan setelah mengalami penderitaan harus berpisah dari orang tuanya yang sangat mencintai dan menyayanginya segenap jiwa. Begitupun Muhammad, mendapatkan kemuliaan tatkala ditinggalkan orang-orang terkasihnya dengan di-isra’mi’raj-kan oleh Allah”, begitu lugas kata-kata meluncur dari ’Issyika diiringi tetesan air mata tak terbendung.
Begitupun dengan Raj. Dia tak mampu membendung luapan air matanya yang begitu deras. Dan berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh ’Issyika, mencoba memahaminya dengan sesadar-sadarnya akan arti cinta yang sebenarnya. Mungkin, inikah yang disebut pengorbanan cinta sejati?
Seiring waktu yang mendekati senja. Merekapun melangkah meninggalkan pantai penuh kenangan. Tak ada kata perpisahan. Tak ada kata maaf. Tapi di jiwa keduanya telah terpatri kenangan itu. Di sinilah kita memulai dan di sini pulalah semuanya berakhir. Sebab, cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah senantiasa.
Dimuat Radar Jember, 4 September 2011


Tidak ada komentar:
Posting Komentar