Selasa, 17 Mei 2011

Kebenaran Akan Tuhan yang Tak Terbatas


Re Zubairi AB

Benar atau tidak benar, selalu merupakan pengakuan dari pihak diluar dirinya bukan dari diri sendiri.
Kebenaran itu selaras tanpa pertentangan dan tidak perlu dipaksakan untuk diakui.

TUHAN sebagaimana tuhan yang dikenal oleh manusia secara umum merupakan sebuah ada yang mempunyai sifat-sifat tertentu agar layak disebut tuhan. Manusia mengenal tuhan melalui sifat-sifatnya, seperti halnya manusia yang tak bisa melihat arus listrik tapi tahu kalau arus listrik itu ada dari sifat dan gejala yang muncul karena keberadaan benda tersebut.  Sifat tuhan sebagai penguasa alam semesta haruslah serba maha; maha tahu, maha esa, maha kasih, maha pengampun, maha mengerti, maha baik, maha besar, dll. Bisa dikatakan secara sederhana, jika sosok tuhan sebagai sebuah ada yang lebih besar dari segala ada yang terdapat di alam semesta ini, Ia harus memiliki sifat yang tak terbatas. Tuhan haruslah tak terbatas, tidak mempunyai batas, dan universal. Kalau tuhan mempunyai sedikit saja sifat keterbatasan dalam dirinya, maka ia tidak layak disebut tuhan karena mempunyai sifat yang tidak  lebih dari alam semesta yang dicipta dan dikuasainya. Keterbatasan dan ketidakterbatasan adalah sifat utama yang membedakan tuhan dengan segala unsur di alam semesta.
MANUSIA selama hidupnya selalu mencari kebenaran tentang tuhan. Dari zaman ke zaman, manusia selalu kagum dan tertarik dengan kekuatan-kekuatan yang melebihi dirinya. Sebab itu pulalah yang menjadikan adanya kepercayaan terhadap dewa-dewa kuno yang merupakan personifikasi manusia terhadap kekaguman mereka pada fenomena alam disekelilingnya. Dari kekaguman terhadap fenomena alam meningkat pada pertanyaan tentang siapa yang mengatur semua gerak semesta itu? Dengan keresahan baru inilah yang akhirnya mengarahkan manusia kepada sosok tunggal yang berkuasa mengerakan semua unsur semesta, yang kini umum dikenal sebagai tuhan. Kekuatan tunggal penguasa semesta ini sampai sekarang tetap langgeng menjadi dasar dari agama-agama monotheis di dunia.
SESUAI dengan sifat dunia yang serba terbatas, pengetahuan tentang tuhan-pun juga terbatas. Pengetahuan sendiri secara hakiki adalah muncul dari pemahaman akan sesuatu yang yang pasti dan mempunyai bukti. Diluar dari unsur kepastian yang ada, pengetahuan tidak lebih dari asumsi dan prediksi belaka. Pengetahuan tentang tuhan mempunyai keistimewaan karena pengetahuan tersebut bergerak dari nilai-nilai kepercayaan semata. Karena memang sifat tuhan sendiri yang absolut tanpa batas tak mungkin terengkup sepenuhnya dengan akal pikiran manusia manapun juga. Tuhan yang tidak dapat dibuktikan secara langsung, dipercayai sebagai sebuah pengetahuan yang pasti adanya.
PENGETAHUAN akan tuhan biasanya didapatkan manusia melalui literatur –literatur agama. Setiap agama mempunyai versi tersendiri dalam mengambarkan tuhan. Hal tersebut sangat wajar karena tiap-tiap agama muncul melalui budaya dan zamannya masing-masing. Unsur budaya setempat dan keadaan sosial politik tempat agama itu muncul, tidak dapat dipungikiri ikut memberi warna pada pengetahuan tentang tuhan. Hal ini mengakibatkan bahwa manusia mengenal tuhan sebegai sosok yang dengan karakter yang berbeda-beda tapi tetap dengan satu sifat utamanya yang serba tak terbatas. Beda dalam hal ajaran tentang tuhan adalah wajar, tapi saling mempertentangkan tentang ajaran akan kebenaran satu tuhan diatas tuhan yang lain adalah hal yang tidak wajar dan sangat bodoh. Karena memang tak seorang manusiapun pernah bertemu secara langsung dengan tuhan sendiri. Manusia hanya dibekali cerita dari orang-orang terdahulu para pendiri agama dan kepercayaan  tentang siapa itu tuhan. Dan kebenaran dari segala unsur cerita yang menyertai kisah lahirnya agama-agama pada masa lampu belum tentu 100% benar sesuai kejadian aslinya. Kita tak pernah bisa yakin benar secara ilmiah bahwa misalnya, apakah benar Yesus bangkit dari mati, jangan-jangan Ia hanya sekarat saja waktu turun dari salib, atau bahkan Ia tak pernah disalibkan sama sekali? Atau dari mana kita tahu kalau Sidharta mendapat pencerahan tertinggi, jangan – jangan ia hanya berhalusinasi karena terlalu sering puasa dan bermati raga? Dan dari mana dapat dibuktikan bahwa suara yang didengar Muhammad di Gua Hira adalah suara malaikat Jibril, bukannya suara Jin Ifrit atau yang lainnya? Itulah hebatnya agama, bisa memberikan pengetahuan tentang tuhan tanpa mampu membuktikan secara pasti. Jadi bisa disimpulkan bahwa sifat kebenaran akan pengetahuan tentang tuhan dalam agama-agama, adalah pengetahuan yang benar hanya karena dan jika kita mempercayainya. Tentang kebenaran tuhan itu seperti apa sebenar-benarnya, masih menjadi misteri.
LETAK konflik antar agama ditimbulkan oleh satu masalah utama yaitu perbedaan pandangan tentang kebenaran tuhan dalam versinya masing-masing.  Tuhan yang benar adalah tuhan menurut versi agama saya, versi agama lain salah dan sesat, maka mereka sebenarnya tidak layak disebut umat tuhan, mereka adalah kafir! Pernyataan itulah yang sangat dahsyat efeknya untuk bisa memprovokasi hati agar membenci atau bahkan menghancurkan pemeluk agama lain. Suatu aliran kepercayaan dianggap benar atau salah, bukan ditilik  dari baik atau buruknya ajarannya, tetapi hanya karena konsep tuhan yang berbeda saja. Padahal ajaranlah yang seharusnya menjadi titik perhatian umat manusia. Ajaran dalam hal ini adalah nilai-nilai yang terdapat dalam suatu agama yang dapat dipakai oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam penerapannya, nilai-nilai hidup dari ajaran agama harusnya lebih dipentingkan daripada pada konsep tentang tuhan itu sendiri. Dalam teori komunikasi, pesan (messege) selalu mendapat tempat lebih tinggi dari pada si pembawa pesan (komunikator).  Agama - agama seharusnya sepakat bahwa perilaku manusialah yang akan dinilai kelayakannya untuk dihadiahi surga atau nereka, bukan berdasarkan dari konsep ketuhanan yang mereka percayai. Suatu pertanyaan yang dapat menggambarkan permasalahan di atas yaitu;  Misalnya konsep ketuhanan yang benar adalah hanya konsep ketuhannya umat Islam, apakah Suster Theresa yang seorang pejuang kemanusiaan tetap dianggap sebagai pendosa hanya karena mempercayai konsep ketuhanan secara katolik? Mahatma Gandhi juga dianggap pendosa hanya karena  Ia mempercayai konsep ketuhanan secara Hindu? Dai Lama juga dianggap pendosa hanya karena Ia mempercayai konsep ketuhanan secara Budha?
AJARAN yang memberikan pandangan bahwa agama yang lain adalah salah, sesat atau kafir karena memiliki konsep ketuhanan yang berbeda dengan agama yang dianutnya sendiri adalah sangat bertentangan dengan sifat tuhan yang tak terbatas. Bila tuhan hanya mengakui umat tertentu saja dan memilih umat berdasarkan konsep ketuhanan yang mereka percayai serta mengajarkan untuk membenci bahkan memerangi umat lain yang mempunyai konsep ketuhanan yang berbeda, itu sudah sangat membuktikan bahwa tuhan yang seperti itu adalah tuhan yang sangat terbatas.  Bila tuhan mempunyai sifat semacam itu, maka ia tak layak lagi diberi lebel MAHA. Supaya tuhan tetap maha, tetap tak terbatas, seharusnya ia terbebas dari semua sekat yang ada. Sekat kesukuan, sekat bahasa, sekat geografis, sekat budaya, sekat negara, bahkan sekat agama sekalipun.
Renungkanlah....!

Tidak ada komentar: