Re Zubairi AB
Benar atau tidak benar, selalu merupakan pengakuan dari pihak diluar
dirinya bukan dari diri sendiri.
Kebenaran itu selaras tanpa pertentangan dan tidak perlu dipaksakan untuk diakui.
Kebenaran itu selaras tanpa pertentangan dan tidak perlu dipaksakan untuk diakui.
TUHAN sebagaimana tuhan yang dikenal oleh manusia
secara umum merupakan sebuah ada yang mempunyai sifat-sifat tertentu agar layak
disebut tuhan. Manusia mengenal tuhan melalui sifat-sifatnya, seperti halnya
manusia yang tak bisa melihat arus listrik tapi tahu kalau arus listrik itu ada
dari sifat dan gejala yang muncul karena keberadaan benda tersebut. Sifat
tuhan sebagai penguasa alam semesta haruslah serba maha; maha tahu, maha esa,
maha kasih, maha pengampun, maha mengerti, maha baik, maha besar, dll. Bisa
dikatakan secara sederhana, jika sosok tuhan sebagai sebuah ada yang lebih
besar dari segala ada yang terdapat di alam semesta ini, Ia harus memiliki
sifat yang tak terbatas. Tuhan haruslah tak terbatas, tidak mempunyai batas,
dan universal. Kalau tuhan mempunyai sedikit saja sifat keterbatasan dalam
dirinya, maka ia tidak layak disebut tuhan karena mempunyai sifat yang
tidak lebih dari alam semesta yang dicipta dan dikuasainya. Keterbatasan
dan ketidakterbatasan adalah sifat utama yang membedakan tuhan dengan segala unsur
di alam semesta.
MANUSIA selama hidupnya selalu mencari kebenaran
tentang tuhan. Dari zaman ke zaman, manusia selalu kagum dan tertarik dengan
kekuatan-kekuatan yang melebihi dirinya. Sebab itu pulalah yang menjadikan
adanya kepercayaan terhadap dewa-dewa kuno yang merupakan personifikasi manusia
terhadap kekaguman mereka pada fenomena alam disekelilingnya. Dari kekaguman
terhadap fenomena alam meningkat pada pertanyaan tentang siapa yang mengatur
semua gerak semesta itu? Dengan keresahan baru inilah yang akhirnya mengarahkan
manusia kepada sosok tunggal yang berkuasa mengerakan semua unsur semesta, yang
kini umum dikenal sebagai tuhan. Kekuatan tunggal penguasa semesta ini sampai
sekarang tetap langgeng menjadi dasar dari agama-agama monotheis di dunia.
SESUAI dengan sifat dunia yang serba terbatas,
pengetahuan tentang tuhan-pun juga terbatas. Pengetahuan sendiri secara hakiki
adalah muncul dari pemahaman akan sesuatu yang yang pasti dan mempunyai bukti.
Diluar dari unsur kepastian yang ada, pengetahuan tidak lebih dari asumsi dan
prediksi belaka. Pengetahuan tentang tuhan mempunyai keistimewaan karena
pengetahuan tersebut bergerak dari nilai-nilai kepercayaan semata. Karena
memang sifat tuhan sendiri yang absolut tanpa batas tak mungkin terengkup sepenuhnya
dengan akal pikiran manusia manapun juga. Tuhan yang tidak dapat dibuktikan
secara langsung, dipercayai sebagai sebuah pengetahuan yang pasti adanya.
PENGETAHUAN akan tuhan biasanya didapatkan manusia
melalui literatur –literatur agama. Setiap agama mempunyai versi tersendiri
dalam mengambarkan tuhan. Hal tersebut sangat wajar karena tiap-tiap agama
muncul melalui budaya dan zamannya masing-masing. Unsur budaya setempat dan
keadaan sosial politik tempat agama itu muncul, tidak dapat dipungikiri ikut memberi
warna pada pengetahuan tentang tuhan. Hal ini mengakibatkan bahwa manusia
mengenal tuhan sebegai sosok yang dengan karakter yang berbeda-beda tapi tetap
dengan satu sifat utamanya yang serba tak terbatas. Beda dalam hal ajaran
tentang tuhan adalah wajar, tapi saling mempertentangkan tentang ajaran akan
kebenaran satu tuhan diatas tuhan yang lain adalah hal yang tidak wajar dan
sangat bodoh. Karena memang tak seorang manusiapun pernah bertemu secara
langsung dengan tuhan sendiri. Manusia hanya dibekali cerita dari orang-orang
terdahulu para pendiri agama dan kepercayaan tentang siapa itu tuhan. Dan
kebenaran dari segala unsur cerita yang menyertai kisah lahirnya agama-agama
pada masa lampu belum tentu 100% benar sesuai kejadian aslinya. Kita tak pernah
bisa yakin benar secara ilmiah bahwa misalnya, apakah benar Yesus bangkit dari
mati, jangan-jangan Ia hanya sekarat saja waktu turun dari salib, atau bahkan
Ia tak pernah disalibkan sama sekali? Atau dari mana kita tahu kalau Sidharta
mendapat pencerahan tertinggi, jangan – jangan ia hanya berhalusinasi karena
terlalu sering puasa dan bermati raga? Dan dari mana dapat dibuktikan bahwa
suara yang didengar Muhammad di Gua Hira adalah suara malaikat Jibril, bukannya
suara Jin Ifrit atau yang lainnya? Itulah hebatnya agama, bisa memberikan
pengetahuan tentang tuhan tanpa mampu membuktikan secara pasti. Jadi bisa
disimpulkan bahwa sifat kebenaran akan pengetahuan tentang tuhan dalam
agama-agama, adalah pengetahuan yang benar hanya karena dan jika kita mempercayainya.
Tentang kebenaran tuhan itu seperti apa sebenar-benarnya, masih menjadi
misteri.
LETAK konflik antar agama ditimbulkan oleh satu
masalah utama yaitu perbedaan pandangan tentang kebenaran tuhan dalam versinya
masing-masing. Tuhan yang benar adalah tuhan menurut versi agama saya,
versi agama lain salah dan sesat, maka mereka sebenarnya tidak layak disebut
umat tuhan, mereka adalah kafir! Pernyataan itulah yang sangat dahsyat efeknya
untuk bisa memprovokasi hati agar membenci atau bahkan menghancurkan pemeluk
agama lain. Suatu aliran kepercayaan dianggap benar atau salah, bukan
ditilik dari baik atau buruknya ajarannya, tetapi hanya karena konsep
tuhan yang berbeda saja. Padahal ajaranlah yang seharusnya menjadi titik
perhatian umat manusia. Ajaran dalam hal ini adalah nilai-nilai yang terdapat
dalam suatu agama yang dapat dipakai oleh manusia dalam kehidupannya
sehari-hari. Dalam penerapannya, nilai-nilai hidup dari ajaran agama harusnya
lebih dipentingkan daripada pada konsep tentang tuhan itu sendiri. Dalam teori
komunikasi, pesan (messege) selalu mendapat tempat lebih tinggi dari pada si
pembawa pesan (komunikator). Agama - agama seharusnya sepakat bahwa
perilaku manusialah yang akan dinilai kelayakannya untuk dihadiahi surga atau
nereka, bukan berdasarkan dari konsep ketuhanan yang mereka percayai. Suatu
pertanyaan yang dapat menggambarkan permasalahan di atas yaitu; Misalnya
konsep ketuhanan yang benar adalah hanya konsep ketuhannya umat Islam, apakah
Suster Theresa yang seorang pejuang kemanusiaan tetap dianggap sebagai pendosa
hanya karena mempercayai konsep ketuhanan secara katolik? Mahatma Gandhi juga
dianggap pendosa hanya karena Ia mempercayai konsep ketuhanan secara
Hindu? Dai Lama juga dianggap pendosa hanya karena Ia mempercayai konsep
ketuhanan secara Budha?
AJARAN yang memberikan pandangan bahwa agama yang
lain adalah salah, sesat atau kafir karena memiliki konsep ketuhanan yang
berbeda dengan agama yang dianutnya sendiri adalah sangat bertentangan dengan
sifat tuhan yang tak terbatas. Bila tuhan hanya mengakui umat tertentu saja dan
memilih umat berdasarkan konsep ketuhanan yang mereka percayai serta
mengajarkan untuk membenci bahkan memerangi umat lain yang mempunyai konsep
ketuhanan yang berbeda, itu sudah sangat membuktikan bahwa tuhan yang seperti
itu adalah tuhan yang sangat terbatas. Bila tuhan mempunyai sifat semacam
itu, maka ia tak layak lagi diberi lebel MAHA. Supaya tuhan tetap maha, tetap
tak terbatas, seharusnya ia terbebas dari semua sekat yang ada. Sekat kesukuan,
sekat bahasa, sekat geografis, sekat budaya, sekat negara, bahkan sekat agama
sekalipun.
Renungkanlah....!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar