Re Zubairi AB*
Perih angin menyapa malam
sunyi tak kunjung usai
menari memahat nestapa dalam parau asa yang kelam
gerangan apakah mendung tak jua menepi
dari langit hatimu?
“Biar waktu terbaring bersamaku
di ranjang nestapa ia menjemput”,
lalu wajahmu redup
Di kakimu dedaun telungkup
berendam air mata bersama riak menyisakan sayu
Kemana akan mengadu
bila senyum yang dulu singgah
Kini becek air mata
(Dimuat di Radar Jember, Minggu, 1 Mei 2011)
Perih angin menyapa malam
sunyi tak kunjung usai
menari memahat nestapa dalam parau asa yang kelam
gerangan apakah mendung tak jua menepi
dari langit hatimu?
“Biar waktu terbaring bersamaku
di ranjang nestapa ia menjemput”,
lalu wajahmu redup
Di kakimu dedaun telungkup
berendam air mata bersama riak menyisakan sayu
Kemana akan mengadu
bila senyum yang dulu singgah
Kini becek air mata
(Dimuat di Radar Jember, Minggu, 1 Mei 2011)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar