Eri Zubairi AB
Orang yang percaya bahwa tsunami adalah cobaan dari Tuhan,
maka dia percaya kepada Tuhan yang buas.
Itu bukan Tuhan saya
(Goenawan Muhammad)
SECARA normatif, sering terdengar bahwa iman dan takwa merupakan suatu yang niscaya harus tertanam dalam diri manusia untuk menurunkan berkah dari langit (QS. Al-A’raf: 96-101). Iman dan takwa, dua istilah yang sering hadir dalam teks-teks keagamaan (baca: al-Qur’an) sebagai sebuah solusi atas kompoleksitas problem dalam kehidupan manusia. Banyaknya bencana yang sering melanda negeri ini, ditanggapi secara beragam dengan berbagai sudut pandang disiplin keilmuan yang dimilikinya. Tuhan tidak lagi menurunkan berkahnya ke bumi disebabkan banyak manusia tidak dengan sungguh-sungguh menghayati keberimanannya, demikian banyak komentar yang sering terdengar.
TAK dapat disangkal bahwa konsep iman dan takwa dalam pemikiran mainstream masyarakat, tak lebih hanyalah bentuk kepercayaan terhadap Tuhan (baca: Allah) yang harus direalisasikan dalam bentuk ritus-ritus maupun liturgis keagamaan semata. Dan hanya menyebabkan terperosok dalam praktek penghayatan religiositas-keberimanan yang absurd.
MENURUT Bertrand Russel, banyak orang yang percaya (iman) terhadap Tuhan, namun prilaku mereka banyak yang merugikan atau menyakiti sesama. Jelas, sikap Russel sangat ilmiah dan kita tidak semesrinya menutup mata terhadap fenomena tersebut. Lalu, apakah lantas manusia harus menanggalkan iman, dan lari dari Tuhan? Ini juga bukan solusi terbaik untuk dilakukan. Perlu sebuah lapangan pemahaman yang lebih dinamis dan humanis dalam bangunan keberimanan terhadap Tuhan. Nietzche pernah pernah berujar, requem aeternam deo, bukan lantas kita menelan mentah-mentah menu tuhan yang dihidangkan olehnya. Nietzche hanya ingin menggugah keberimanan yang telah lama mati dan tak mampu menjadi menu saji yang bergizi bagi kemanusiaan. Karena iman hanya jadi sebuah paparéghan yang kosong akan makna, menjadi media penindas atas nama Tuhan.
DISINI perlu adanya bentuk keberimanan yang berpihak terhadap kemanusiaan. Bukankah iman sendiri mempunyai arti memberi rasa aman, nyaman, dan tenteram terhadap sesama dan lingkungannya? Konsekuensi logis dari iman adalah lahirnya sikap amanah. Orang yang (merasa) beriman, seharusnya mampu menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Al Qur’an selalu menyandingkan kata iman dengan amal shalih, artinya iman tak lebih hanya sebuah konsep dan amal shalih adalah praksisnya. Apalah arti sebuah konsep tanpa aplikasi, yang hanya membuat orang-orang bingung-kelimpungan dan bahkan membuatnya tersesat di halaman rumahnya sendiri. ”Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tak berbuah”, begitulah kelakar orang bijak. Faith in action!
LALU, apa korelasi iman dengan takwa? Tidak lengkap rasanya dalam mencari sebuah pengertian taqwa kalau tidak mengutip salah satu primbon kecil tentang etika yang banyak dijadikan referensi di kalangan pesantren, Taisir al Khallaq. Di sana disebutkan bahwa al Taqwa, huwa imtitsal awamir al-llah wa ijtinab nawahih. Bukan berarti kita wajib menerima definisi tersebut secara taken for granted. Pengertian takwa disini masih ada jurang pemisah antara yang Kuat-yang lemah, yang Atas-yang Bawah, yang Jauh-yang Dekat, Tak Terbatas-terbatas, dan segala bentuk dualitas yang melekat dalam ranah relasi Tuhan-manusia. Tak heran, kemudian muncul statemen bahwa datangnya agama telah mengalienasi manusia dari kehidupannya. Nurcholish Madjid, memaknai taqwa dalam konsep yang berbeda dan lebih mencerminkan keimanan yang dinamis-humanis. Menurutnya, takwa adalah kesadaran terhadap Tuhan (god consiousness). Kesadaran akan kemahahadiran Tuhan (omnipresent) dalam kehidupannya yang lalu memunculkan bentuk tanggungjawab kemanusiaan yang tercermin dalam prilaku sosial yang shalih.
JADI, Iman dan takwa merupakan suatu bangunan nilai ketuhanan yang simetris-simbiosis dalam menciptakan pola interaksi kehidupan bermasyarakat secara ideal, yang dilandasi nilai-nilai luhur ketuhanan seperti kasih sayang, memelihara dari kerusakan, saling membantu dalam kebaikan, adil dalam ucapan maupun tindakan, tidak menanam bibit permusuhan, dan segala bentuk nilai positif lainnya. Inilah iman yang akan membawa kepada kebaikan bersama, iman yang rahmatan lil alamain!
AKHIRNYA, saya hanya ingin seperti Tuhan yang Maha Santun, tidak buas dan arogan. Sebab, itulah iman saya terhadapNya, Sang Mahacinta!
Shodaqallahul ’azhim!
Orang yang percaya bahwa tsunami adalah cobaan dari Tuhan,
maka dia percaya kepada Tuhan yang buas.
Itu bukan Tuhan saya
(Goenawan Muhammad)
SECARA normatif, sering terdengar bahwa iman dan takwa merupakan suatu yang niscaya harus tertanam dalam diri manusia untuk menurunkan berkah dari langit (QS. Al-A’raf: 96-101). Iman dan takwa, dua istilah yang sering hadir dalam teks-teks keagamaan (baca: al-Qur’an) sebagai sebuah solusi atas kompoleksitas problem dalam kehidupan manusia. Banyaknya bencana yang sering melanda negeri ini, ditanggapi secara beragam dengan berbagai sudut pandang disiplin keilmuan yang dimilikinya. Tuhan tidak lagi menurunkan berkahnya ke bumi disebabkan banyak manusia tidak dengan sungguh-sungguh menghayati keberimanannya, demikian banyak komentar yang sering terdengar.
TAK dapat disangkal bahwa konsep iman dan takwa dalam pemikiran mainstream masyarakat, tak lebih hanyalah bentuk kepercayaan terhadap Tuhan (baca: Allah) yang harus direalisasikan dalam bentuk ritus-ritus maupun liturgis keagamaan semata. Dan hanya menyebabkan terperosok dalam praktek penghayatan religiositas-keberimanan yang absurd.
MENURUT Bertrand Russel, banyak orang yang percaya (iman) terhadap Tuhan, namun prilaku mereka banyak yang merugikan atau menyakiti sesama. Jelas, sikap Russel sangat ilmiah dan kita tidak semesrinya menutup mata terhadap fenomena tersebut. Lalu, apakah lantas manusia harus menanggalkan iman, dan lari dari Tuhan? Ini juga bukan solusi terbaik untuk dilakukan. Perlu sebuah lapangan pemahaman yang lebih dinamis dan humanis dalam bangunan keberimanan terhadap Tuhan. Nietzche pernah pernah berujar, requem aeternam deo, bukan lantas kita menelan mentah-mentah menu tuhan yang dihidangkan olehnya. Nietzche hanya ingin menggugah keberimanan yang telah lama mati dan tak mampu menjadi menu saji yang bergizi bagi kemanusiaan. Karena iman hanya jadi sebuah paparéghan yang kosong akan makna, menjadi media penindas atas nama Tuhan.
DISINI perlu adanya bentuk keberimanan yang berpihak terhadap kemanusiaan. Bukankah iman sendiri mempunyai arti memberi rasa aman, nyaman, dan tenteram terhadap sesama dan lingkungannya? Konsekuensi logis dari iman adalah lahirnya sikap amanah. Orang yang (merasa) beriman, seharusnya mampu menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Al Qur’an selalu menyandingkan kata iman dengan amal shalih, artinya iman tak lebih hanya sebuah konsep dan amal shalih adalah praksisnya. Apalah arti sebuah konsep tanpa aplikasi, yang hanya membuat orang-orang bingung-kelimpungan dan bahkan membuatnya tersesat di halaman rumahnya sendiri. ”Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tak berbuah”, begitulah kelakar orang bijak. Faith in action!
LALU, apa korelasi iman dengan takwa? Tidak lengkap rasanya dalam mencari sebuah pengertian taqwa kalau tidak mengutip salah satu primbon kecil tentang etika yang banyak dijadikan referensi di kalangan pesantren, Taisir al Khallaq. Di sana disebutkan bahwa al Taqwa, huwa imtitsal awamir al-llah wa ijtinab nawahih. Bukan berarti kita wajib menerima definisi tersebut secara taken for granted. Pengertian takwa disini masih ada jurang pemisah antara yang Kuat-yang lemah, yang Atas-yang Bawah, yang Jauh-yang Dekat, Tak Terbatas-terbatas, dan segala bentuk dualitas yang melekat dalam ranah relasi Tuhan-manusia. Tak heran, kemudian muncul statemen bahwa datangnya agama telah mengalienasi manusia dari kehidupannya. Nurcholish Madjid, memaknai taqwa dalam konsep yang berbeda dan lebih mencerminkan keimanan yang dinamis-humanis. Menurutnya, takwa adalah kesadaran terhadap Tuhan (god consiousness). Kesadaran akan kemahahadiran Tuhan (omnipresent) dalam kehidupannya yang lalu memunculkan bentuk tanggungjawab kemanusiaan yang tercermin dalam prilaku sosial yang shalih.
JADI, Iman dan takwa merupakan suatu bangunan nilai ketuhanan yang simetris-simbiosis dalam menciptakan pola interaksi kehidupan bermasyarakat secara ideal, yang dilandasi nilai-nilai luhur ketuhanan seperti kasih sayang, memelihara dari kerusakan, saling membantu dalam kebaikan, adil dalam ucapan maupun tindakan, tidak menanam bibit permusuhan, dan segala bentuk nilai positif lainnya. Inilah iman yang akan membawa kepada kebaikan bersama, iman yang rahmatan lil alamain!
AKHIRNYA, saya hanya ingin seperti Tuhan yang Maha Santun, tidak buas dan arogan. Sebab, itulah iman saya terhadapNya, Sang Mahacinta!
Shodaqallahul ’azhim!

