Selasa, 17 Mei 2011

Tuhan adalah sebuah Nilai (1)

Eri Zubairi AB


Orang yang percaya bahwa tsunami adalah cobaan dari Tuhan,
maka dia percaya kepada Tuhan yang buas.
Itu bukan Tuhan saya
(Goenawan Muhammad)


SECARA normatif, sering terdengar bahwa iman dan takwa merupakan suatu yang niscaya harus tertanam dalam diri manusia untuk menurunkan berkah dari langit (QS. Al-A’raf: 96-101). Iman dan takwa, dua istilah yang sering hadir dalam teks-teks keagamaan (baca: al-Qur’an) sebagai sebuah solusi atas kompoleksitas problem dalam kehidupan manusia. Banyaknya bencana yang sering melanda negeri ini, ditanggapi secara beragam dengan berbagai sudut pandang disiplin keilmuan yang dimilikinya. Tuhan tidak lagi menurunkan berkahnya ke bumi disebabkan banyak manusia tidak dengan sungguh-sungguh menghayati keberimanannya, demikian banyak komentar yang sering terdengar.

TAK dapat disangkal bahwa konsep iman dan takwa dalam pemikiran mainstream masyarakat, tak lebih hanyalah bentuk kepercayaan terhadap Tuhan (baca: Allah) yang harus direalisasikan dalam bentuk ritus-ritus maupun liturgis keagamaan semata. Dan hanya menyebabkan terperosok dalam praktek penghayatan religiositas-keberimanan yang absurd.

MENURUT Bertrand Russel, banyak orang yang percaya (iman) terhadap Tuhan, namun prilaku mereka banyak yang merugikan atau menyakiti sesama. Jelas, sikap Russel sangat ilmiah dan kita tidak semesrinya menutup mata terhadap fenomena tersebut. Lalu, apakah lantas manusia harus menanggalkan iman, dan lari dari Tuhan? Ini juga bukan solusi terbaik untuk dilakukan. Perlu sebuah lapangan pemahaman yang lebih dinamis dan humanis dalam bangunan keberimanan terhadap Tuhan. Nietzche pernah pernah berujar, requem aeternam deo, bukan lantas kita menelan mentah-mentah menu tuhan yang dihidangkan olehnya. Nietzche hanya ingin menggugah keberimanan yang telah lama mati dan tak mampu menjadi menu saji yang bergizi bagi kemanusiaan. Karena iman hanya jadi sebuah paparéghan yang kosong akan makna, menjadi media penindas atas nama Tuhan.

DISINI perlu adanya bentuk keberimanan yang berpihak terhadap kemanusiaan. Bukankah iman sendiri mempunyai arti memberi rasa aman, nyaman, dan tenteram terhadap sesama dan lingkungannya? Konsekuensi logis dari iman adalah lahirnya sikap amanah. Orang yang (merasa) beriman, seharusnya mampu menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Al Qur’an selalu menyandingkan kata iman dengan amal shalih, artinya iman tak lebih hanya sebuah konsep dan amal shalih adalah praksisnya. Apalah arti sebuah konsep tanpa aplikasi, yang hanya membuat orang-orang bingung-kelimpungan dan bahkan membuatnya tersesat di halaman rumahnya sendiri. ”Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tak berbuah”, begitulah kelakar orang bijak. Faith in action!

LALU, apa korelasi iman dengan takwa? Tidak lengkap rasanya dalam mencari sebuah pengertian taqwa kalau tidak mengutip salah satu primbon kecil tentang etika yang banyak dijadikan referensi di kalangan pesantren, Taisir al Khallaq. Di sana disebutkan bahwa al Taqwa, huwa imtitsal awamir al-llah wa ijtinab nawahih. Bukan berarti kita wajib menerima definisi tersebut secara taken for granted. Pengertian takwa disini masih ada jurang pemisah antara yang Kuat-yang lemah, yang Atas-yang Bawah, yang Jauh-yang Dekat, Tak Terbatas-terbatas, dan segala bentuk dualitas yang melekat dalam ranah relasi Tuhan-manusia. Tak heran, kemudian muncul statemen bahwa datangnya agama telah mengalienasi manusia dari kehidupannya. Nurcholish Madjid, memaknai taqwa dalam konsep yang berbeda dan lebih mencerminkan keimanan yang dinamis-humanis. Menurutnya, takwa adalah kesadaran terhadap Tuhan (god consiousness). Kesadaran akan kemahahadiran Tuhan (omnipresent) dalam kehidupannya yang lalu memunculkan bentuk tanggungjawab kemanusiaan yang tercermin dalam prilaku sosial yang shalih.

JADI, Iman dan takwa merupakan suatu bangunan nilai ketuhanan yang simetris-simbiosis dalam menciptakan pola interaksi kehidupan bermasyarakat secara ideal, yang dilandasi nilai-nilai luhur ketuhanan seperti kasih sayang, memelihara dari kerusakan, saling membantu dalam kebaikan, adil dalam ucapan maupun tindakan, tidak menanam bibit permusuhan, dan segala bentuk nilai positif lainnya. Inilah iman yang akan membawa kepada kebaikan bersama, iman yang rahmatan lil alamain!
AKHIRNYA, saya hanya ingin seperti Tuhan yang Maha Santun, tidak buas dan arogan. Sebab, itulah iman saya terhadapNya, Sang Mahacinta!

Shodaqallahul ’azhim!

Kebenaran Akan Tuhan yang Tak Terbatas


Re Zubairi AB

Benar atau tidak benar, selalu merupakan pengakuan dari pihak diluar dirinya bukan dari diri sendiri.
Kebenaran itu selaras tanpa pertentangan dan tidak perlu dipaksakan untuk diakui.

TUHAN sebagaimana tuhan yang dikenal oleh manusia secara umum merupakan sebuah ada yang mempunyai sifat-sifat tertentu agar layak disebut tuhan. Manusia mengenal tuhan melalui sifat-sifatnya, seperti halnya manusia yang tak bisa melihat arus listrik tapi tahu kalau arus listrik itu ada dari sifat dan gejala yang muncul karena keberadaan benda tersebut.  Sifat tuhan sebagai penguasa alam semesta haruslah serba maha; maha tahu, maha esa, maha kasih, maha pengampun, maha mengerti, maha baik, maha besar, dll. Bisa dikatakan secara sederhana, jika sosok tuhan sebagai sebuah ada yang lebih besar dari segala ada yang terdapat di alam semesta ini, Ia harus memiliki sifat yang tak terbatas. Tuhan haruslah tak terbatas, tidak mempunyai batas, dan universal. Kalau tuhan mempunyai sedikit saja sifat keterbatasan dalam dirinya, maka ia tidak layak disebut tuhan karena mempunyai sifat yang tidak  lebih dari alam semesta yang dicipta dan dikuasainya. Keterbatasan dan ketidakterbatasan adalah sifat utama yang membedakan tuhan dengan segala unsur di alam semesta.
MANUSIA selama hidupnya selalu mencari kebenaran tentang tuhan. Dari zaman ke zaman, manusia selalu kagum dan tertarik dengan kekuatan-kekuatan yang melebihi dirinya. Sebab itu pulalah yang menjadikan adanya kepercayaan terhadap dewa-dewa kuno yang merupakan personifikasi manusia terhadap kekaguman mereka pada fenomena alam disekelilingnya. Dari kekaguman terhadap fenomena alam meningkat pada pertanyaan tentang siapa yang mengatur semua gerak semesta itu? Dengan keresahan baru inilah yang akhirnya mengarahkan manusia kepada sosok tunggal yang berkuasa mengerakan semua unsur semesta, yang kini umum dikenal sebagai tuhan. Kekuatan tunggal penguasa semesta ini sampai sekarang tetap langgeng menjadi dasar dari agama-agama monotheis di dunia.
SESUAI dengan sifat dunia yang serba terbatas, pengetahuan tentang tuhan-pun juga terbatas. Pengetahuan sendiri secara hakiki adalah muncul dari pemahaman akan sesuatu yang yang pasti dan mempunyai bukti. Diluar dari unsur kepastian yang ada, pengetahuan tidak lebih dari asumsi dan prediksi belaka. Pengetahuan tentang tuhan mempunyai keistimewaan karena pengetahuan tersebut bergerak dari nilai-nilai kepercayaan semata. Karena memang sifat tuhan sendiri yang absolut tanpa batas tak mungkin terengkup sepenuhnya dengan akal pikiran manusia manapun juga. Tuhan yang tidak dapat dibuktikan secara langsung, dipercayai sebagai sebuah pengetahuan yang pasti adanya.
PENGETAHUAN akan tuhan biasanya didapatkan manusia melalui literatur –literatur agama. Setiap agama mempunyai versi tersendiri dalam mengambarkan tuhan. Hal tersebut sangat wajar karena tiap-tiap agama muncul melalui budaya dan zamannya masing-masing. Unsur budaya setempat dan keadaan sosial politik tempat agama itu muncul, tidak dapat dipungikiri ikut memberi warna pada pengetahuan tentang tuhan. Hal ini mengakibatkan bahwa manusia mengenal tuhan sebegai sosok yang dengan karakter yang berbeda-beda tapi tetap dengan satu sifat utamanya yang serba tak terbatas. Beda dalam hal ajaran tentang tuhan adalah wajar, tapi saling mempertentangkan tentang ajaran akan kebenaran satu tuhan diatas tuhan yang lain adalah hal yang tidak wajar dan sangat bodoh. Karena memang tak seorang manusiapun pernah bertemu secara langsung dengan tuhan sendiri. Manusia hanya dibekali cerita dari orang-orang terdahulu para pendiri agama dan kepercayaan  tentang siapa itu tuhan. Dan kebenaran dari segala unsur cerita yang menyertai kisah lahirnya agama-agama pada masa lampu belum tentu 100% benar sesuai kejadian aslinya. Kita tak pernah bisa yakin benar secara ilmiah bahwa misalnya, apakah benar Yesus bangkit dari mati, jangan-jangan Ia hanya sekarat saja waktu turun dari salib, atau bahkan Ia tak pernah disalibkan sama sekali? Atau dari mana kita tahu kalau Sidharta mendapat pencerahan tertinggi, jangan – jangan ia hanya berhalusinasi karena terlalu sering puasa dan bermati raga? Dan dari mana dapat dibuktikan bahwa suara yang didengar Muhammad di Gua Hira adalah suara malaikat Jibril, bukannya suara Jin Ifrit atau yang lainnya? Itulah hebatnya agama, bisa memberikan pengetahuan tentang tuhan tanpa mampu membuktikan secara pasti. Jadi bisa disimpulkan bahwa sifat kebenaran akan pengetahuan tentang tuhan dalam agama-agama, adalah pengetahuan yang benar hanya karena dan jika kita mempercayainya. Tentang kebenaran tuhan itu seperti apa sebenar-benarnya, masih menjadi misteri.
LETAK konflik antar agama ditimbulkan oleh satu masalah utama yaitu perbedaan pandangan tentang kebenaran tuhan dalam versinya masing-masing.  Tuhan yang benar adalah tuhan menurut versi agama saya, versi agama lain salah dan sesat, maka mereka sebenarnya tidak layak disebut umat tuhan, mereka adalah kafir! Pernyataan itulah yang sangat dahsyat efeknya untuk bisa memprovokasi hati agar membenci atau bahkan menghancurkan pemeluk agama lain. Suatu aliran kepercayaan dianggap benar atau salah, bukan ditilik  dari baik atau buruknya ajarannya, tetapi hanya karena konsep tuhan yang berbeda saja. Padahal ajaranlah yang seharusnya menjadi titik perhatian umat manusia. Ajaran dalam hal ini adalah nilai-nilai yang terdapat dalam suatu agama yang dapat dipakai oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam penerapannya, nilai-nilai hidup dari ajaran agama harusnya lebih dipentingkan daripada pada konsep tentang tuhan itu sendiri. Dalam teori komunikasi, pesan (messege) selalu mendapat tempat lebih tinggi dari pada si pembawa pesan (komunikator).  Agama - agama seharusnya sepakat bahwa perilaku manusialah yang akan dinilai kelayakannya untuk dihadiahi surga atau nereka, bukan berdasarkan dari konsep ketuhanan yang mereka percayai. Suatu pertanyaan yang dapat menggambarkan permasalahan di atas yaitu;  Misalnya konsep ketuhanan yang benar adalah hanya konsep ketuhannya umat Islam, apakah Suster Theresa yang seorang pejuang kemanusiaan tetap dianggap sebagai pendosa hanya karena mempercayai konsep ketuhanan secara katolik? Mahatma Gandhi juga dianggap pendosa hanya karena  Ia mempercayai konsep ketuhanan secara Hindu? Dai Lama juga dianggap pendosa hanya karena Ia mempercayai konsep ketuhanan secara Budha?
AJARAN yang memberikan pandangan bahwa agama yang lain adalah salah, sesat atau kafir karena memiliki konsep ketuhanan yang berbeda dengan agama yang dianutnya sendiri adalah sangat bertentangan dengan sifat tuhan yang tak terbatas. Bila tuhan hanya mengakui umat tertentu saja dan memilih umat berdasarkan konsep ketuhanan yang mereka percayai serta mengajarkan untuk membenci bahkan memerangi umat lain yang mempunyai konsep ketuhanan yang berbeda, itu sudah sangat membuktikan bahwa tuhan yang seperti itu adalah tuhan yang sangat terbatas.  Bila tuhan mempunyai sifat semacam itu, maka ia tak layak lagi diberi lebel MAHA. Supaya tuhan tetap maha, tetap tak terbatas, seharusnya ia terbebas dari semua sekat yang ada. Sekat kesukuan, sekat bahasa, sekat geografis, sekat budaya, sekat negara, bahkan sekat agama sekalipun.
Renungkanlah....!

Sabtu, 07 Mei 2011

Munajat

*Re Zubairi AB*

Subhanallah!
DimataMu embun tak kering
menawarkan pelangi di langit hatiku
tak sanggup kupanjat
meski hanya setapak doa

Astaghfirullah!
Alangkah ringkih jiwa ini di hadapan spektrum laut kasihMu
bergelombang tak henti mendera kapuk berkarat jiwaku

Allahu Akbar!
Kurangkai lembar hari-hari dengan sajak ketakberdayaan
mengeja makna kuasaMu di sepanjang lidah nafas
lalu lunglai

Irhamna!

(Dimuat Di Radar Jember, Minggu, 1 Mei 2011)

Semua Tentang Cinta

*Re Zubairi AB* Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling…. (saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian dll). Cinta itu sendiri sama sekali tidak dapat dipaksakan, cinta hanya dapat brjalan apabila ke-2 belah phiak melakukan “saling” tersebut… cinta tidak dapat berjalan apabila mereka mementingkan diri sendiri. Karena dalam berhubungan, pasangan kita pasti menginginkan suatu perhatian lebih dan itu hanya bisa di dapat dari pengertian pasangannya. Cinta adalah memberikan kasih sayang bukannya rantai. Cinta juga tidak bisa dipaksakan dan datangnya pun kadang secara tidak di sengaja. Cinta indah namun kepedihan yang ditinggalkannya kadang berlangsung lebih lama dari cinta itu sendiri. Batas cinta dan benci juga amat tipis tapi dengan cinta dunia yang kita jalani serasa lebih ringan. Cinta itu perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya (misalnya sifat, wajah dan lain lain). Namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan, haruslah saling menutupi kekurangan dan mau menerima pasangannya apa adanya, tanpa pemaksaan oleh salah satu pihak. Berbagi suka bersama dan berbagi kesedihan bersama. Cinta itu adalah sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya sesuatu yang dibuat-buat, Menurut saya pribadi cinta itu dapat membuat orang itu dapat termotivasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik daripada sebelum ia mengenal cinta itu. Cinta itu sesuatu yang suci dan janganlah kita menodai cinta yang suci itu dengan ke-egoisan kita yang hanya menginginkan enaknya buat kita dan nggak enaknya buat kamu. TIPS; untuk mengawetkan cinta dibutuhkan pengertian! Suatu perasaan terdalam manusia yang membuatnya rela berkorban apa saja demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Pengorbanan-nya itu tulus, tidak mengharap balasan. Kalau misalnya memberi banyak hadiah ke seseorang tapi dengan syarat orang itu harus membalasnya dengan mau jadi kekasihnya, itu bukan cinta namanya. Cinta tidak bisa diukur dengan materi atau pun yang berasal dari dunia fana. Dan percayalah… cinta terbesar biasanya selalu datang dari ibu kandung, bukan dari pacar (sebab cinta pacar bisa luntur suatu saat atau setelah menikah kelak). Cinta, membuat bahagia, duka atau pun buta. Cinta itu penuh pengorbanan, kepahitan, keindahan dan kehangatan. Cinta adalah sebuah keinginan untuk memberi tanpa harus meminta apa-apa, namun cinta akan menjadi lebih indah jika keduanya saling memberi dan menerima, sehingga kehangatan, keselarasan dan kebersamaan menjalani hidup dapat tercapai. Cinta adalah kata yang memiliki banyak makna, bergantung bagaimana kita menempatkannya dalam kehidupan. Ai wa atatakai koto da. Cinta itu bisa membuat orang buta akan segalanya hanya demi rasa sayang terhadap sang kekasih. Kita juga tau apa maknanya cinta itu. Cinta pasti bisa membuat orang merasakan suka dan duka pada waktu yang sama ketika kita berusaha mendapat kebahagiaan bersama. Jadi bukanlah kebahagiaan untuk kita sendiri. Meskipun demikian kita jangan sampai salah langkah agar tidak menuju kesengsaraan. Lakukanlah demi orang yang kamu kasihi agar kau tidak merasa sia-sia tanpa guna. Karena hal itulah yang membuat hidup menjadi lebih hidup (Losta Masta). Cinta adalah perasaan hangat yang mampu membuat kita menyadari betapa berharganya kita, dan adanya seseorang yang begitu berharga untuk kita lindungi. Cinta tidaklah sebatas kata-kata saja, karena cinta jauh lebih berharga daripada harta karun termahal di dunia pun. Saat seseorang memegang tanganmu dan bilang ” Aku cinta kamu…” pasti menjadi perasaan hangat yang istimewa! Karena itu, saat kamu sudah menemukan seseorang yang begitu berharga buat kamu, jangan pernah lepaskan dia! Namun adakalanya cinta begitu menyakitkan, dan satu-satunya jalan untuk menunjukkan cintamu hanyalah merlekan dia pergi. Cinta merupakan anugerah yang tak ternilai harganya dan itu di berikan kepada makhluk yang paling sempurna, manusia. Cinta tidak dapat diucapkan dengan kata-kata, tidak dapat dideskripsikan dengan bahasa apa pun. Cinta hanya bisa dibaca dengan bahasa cinta dan juga dengan perasaan. Cinta adalah perasaan yang universal, tak mengenal gender, usia, suku atau pun ras. Tak peduli cinta dengan sesama manusia, dengan tumbuhan, binatang, roh halus,atau pun dengan Sang Pencipta. Lagi pula, cinta itu buta. Buta sama dengan meraba-raba. Jadi… cinta itu meraba-raba…(^o^)/… meraba-raba isi hati yang dicinta… Cinta itu adalah sebuah perasaan yang tidak ada seorang pun bisa mengetahui kapan datangnya, bahkan sang pemilik perasaan sekali pun. Jika kita sudah mengenal cinta, kita akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Akan tetapi, bila cinta kita tak terbalas, kita akan merasa bahwa kita adalah orang paling malang dan kita akan kehilangan gairah hidup. Dengan cinta, kita bisa belajar untuk menghargai sesama, serta berusaha untuk melindungi orang yang kita cintai, apa pun yang akan terjadi pada kita. Ai ga kirei’n da!

Cinta Maha Dahsyat

Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta cuka menjelma anggur segar
Karena cinta pentungan menjadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjadi keberuntungan
Karena cinta rumah penjara nampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta timbunan debu kelihatan sebagai taman
Karena cinta api berkobar menjadi cahaya menyenangkan
Karena cinta Syaitan berubah menjadi bidadari
Karena cinta batu keras menjadi lembut bagaikan mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat
Karena cinta singa tidak menakutkan bagaikan tikus
Karena cinta sakit menjadi sehat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan.

(By: Jalaluddin Rumi)

Bila Senyummu Tak Kujumpa

Re Zubairi AB*

Perih angin menyapa malam
sunyi tak kunjung usai
menari memahat nestapa dalam parau asa yang kelam
gerangan apakah mendung tak jua menepi
dari langit hatimu?

“Biar waktu terbaring bersamaku
di ranjang nestapa ia menjemput”,
lalu wajahmu redup

Di kakimu dedaun telungkup
berendam air mata bersama riak menyisakan sayu

Kemana akan mengadu
bila senyum yang dulu singgah
Kini becek air mata

(Dimuat di Radar Jember, Minggu, 1 Mei 2011)